Langsung ke konten utama

Gaspa Palopo Kebanggaan Warga Luwu Raya


BOLA - Palopo, daerah berstatus kota sejak 2002 di utara Sulawesi Selatan. Dulu Palopo disebut kota administratif, merupakan ibu kota Kabupaten Luwu.

Kini, Luwu dimekarkan jadi empat daerah. Luwu sebagai induk, Luwu Utara, Luwu Timur, dan Palopo. Daerah ini dikenal dengan sebutan Tana Luwu atau Luwu Raya.

Sepakbola cukup digemari warga Palopo. Di kota ini, Anda dengan mudah menjumpai orang yang sedang nonton bareng pertandingan sepakbola melalui layar televisi.

Cafe ataupun warung kopi yang banyak dijumpai di sudut kota berpenduduk 168.849 jiwa tahun 2015 kerap menggelar nonton bareng laga penting tim Eropa.

Tahun 2004, masyarakat Palopo dan Luwu Raya pernah bangga melihat tim kesayangan mereka Gaspa Palopo berlaga di Divisi I Grup III Liga Indonesia.

Meski hanya bermain di kasta kedua Liga Indonesia, prestasi tersebut merupakan yang terbaik sepanjang berdirinya klub yang bermarkas di Stadion Lagaligo.

Laskar Sawerigading julukan suporter Gaspa Palopo, kala itu, selalu memadati stadion ketika tim kesayangan mereka menjamu tamunya. Seperti Persiwa Wamena dan Persim Maros.

Sayang euforia tersebut berlangsung singkat. Junaid Gely Oga Cs terdegradasi ke Divisi II di akhir musim kerena tidak mampu bersaing dengan tim lainnya.

Hingga tahun 2009 Gaspa Palopo konsisten bermain di kasta ketiga sepakbola Nasional dengan mengandalkan pemain lokal Luwu Raya.

12 Oktober 2009 beberapa jam jelang laga melawan PSKT Tomohon, The Lagaligos disanksi PSSI degradasi ke Divisi III.

Kabar itu mengejutkan banyak pihak, terutama pengurus, pemain, dan suporter.

Penyebabnya, manajemen Gaspa Palopo belum membayar kontrak dua pemain asing ketika berlaga di Divisi I, Anthonio S Fonggan dan Marthen Anniche senilai Rp 500 juta.

Kongres II PSSI di Tabanan, Bali, 22 Januari 2011, Gaspa Palopo resmi dipecat dari keanggotaan PSSI bersama Persma Manado dan Persegi Gianyar karena tidak kunjung melunasi utang.

Jatuhnya sanksi bersamaan dengan terus meredupnya pamor Gaspa Palopo di pentas sepakbola Nasional maupun regional.

Tahun 2013 pengurus PSSI Palopo membentuk tim penggati dengan nama Palopo Raya FC. Namun tak kunjung berprestasi dan kembali berubah nama jadi Gaspa United.

Di ajang Liga 3 baru-baru ini, kiprah Gaspa United hanya sampai di semifinal wilayah Sulsel.

Musim depan, Gaspa United diharapakan bisa berbicara banyak dan lolos ke Liga 2. Semoga.

Lahirkan pemain Timnas

Berbicara pemain sepakbola asal Tana Luwu yang sukses di pentas Nasional, nama Syamsidar paling layak dikedepankan.

Kiper Timnas di Piala AFF 2017 dan Pra Piala Dunia 2014 kelahiran Masamba memulai karir di Gaspa Palopo tahun 2000 sebelum melalangbuana ke sejumlah klub besar tanah air.

Persebaya Surabaya, Persija Jakarta, PSM Makassar, Semen Padang hingga Mitra Kukar pernah menggunakan jasa pemain bertinggi badan 176 centimeter.

Nama lain yang diorbitkan Gaspa Palopo adalah gelandang pengangkut air era 2000-an Marwal Iskandar serta mantan pemaim PSM Makassar dan PKT Bontang Sardianata.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bhayangkara FC, Juara Liga 1 yang Dicibir Pecinta Bola Nasional

BOLA - Kedatangan Michael Kojo Essies di skuad Persib Bandung jelang kompetisi Gojek Traveloka Liga 1 Indonesia 2017 mengejutkan publik sepakbola Nasional. Waktu itu, tidak ada yang mengira Maung Bandung bisa mendatangkan mantan pemain Real Madrid, Chelsea, dan Timnas Ghana. Setelah Essien resmi bergabung, Persib disebut-sebut sebagai salah satu tim favorit juara liga yang pertama pasca PSSI dibekukan FIFA. Sayang, harapan tinggi itu tidak kesampaian, Persib hanya mampu finish di peringkat 13 klasemen akhir, hanya dua strip dari jurang degradasi. Malah, Bhayangkara FC yang tidak begitu diunggulkan mampu tampil konsisten dan juara. Padahal, di skuad Bhayangkara, tidak ada pemain setenar Essien. Pelatih Simon McMenemy hanya memadukan pemain muda dan senior. Evan Dimas Darmono, Awan Setho Raharjo, I Putu Gede Juni Antara, Alsan Putra Masat Sanda, Wahyu Subo Seto, Indra Kahfi Ardhiyasa, hingga Jajang Mulyana. Mereka ditopang pemain asing seperti Lee Yujun,...

Lalui Musim Luar Biasa, PSM Juara di Hati

BOLA - PSM Makassar hampir dipastikan juara Gojek Traveloka Liga 1 Indonesia 2017 andai mampu mengalahkan Bali United di pekan ke-33. Sayang, gol Stefano Lilipaly di masa injury time memaksa PSM Makassar menelan kekalahan perdana di kandang sendiri musim itu. Kekalahan 0-1 tersebut sekaligus memupuskan harapan Pasukan Ramang kembali berjaya setelah 17 tahun tak pernah juara. Meski membantai Madura United 6-1 di laga terakhir, PSM hanya mampu finis di peringkat ke tiga setelah Bhayangkara FC dan Bali United. Finis di peringkat tiga, ternyata tidak membuat suporter dan pecinta PSM Makassar kecewa, mereka menyebut tim kesayangannya juara di hati. PSM Makassar tampil luar biasa sepanjang musim 2017, penampilan konsisten tim kesayangan masyarakat Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat diperlihatkan sejak awal musim. Keputusan manajemen mempertahankan pelatih asal Belanda Robert Rene Alberts dianggap sebagai pilihan yang tepat. Robert dianggap sukses membangun ...