Langsung ke konten utama

Bhayangkara FC, Juara Liga 1 yang Dicibir Pecinta Bola Nasional


BOLA - Kedatangan Michael Kojo Essies di skuad Persib Bandung jelang kompetisi Gojek Traveloka Liga 1 Indonesia 2017 mengejutkan publik sepakbola Nasional.

Waktu itu, tidak ada yang mengira Maung Bandung bisa mendatangkan mantan pemain Real Madrid, Chelsea, dan Timnas Ghana.

Setelah Essien resmi bergabung, Persib disebut-sebut sebagai salah satu tim favorit juara liga yang pertama pasca PSSI dibekukan FIFA.

Sayang, harapan tinggi itu tidak kesampaian, Persib hanya mampu finish di peringkat 13 klasemen akhir, hanya dua strip dari jurang degradasi.

Malah, Bhayangkara FC yang tidak begitu diunggulkan mampu tampil konsisten dan juara.

Padahal, di skuad Bhayangkara, tidak ada pemain setenar Essien. Pelatih Simon McMenemy hanya memadukan pemain muda dan senior.

Evan Dimas Darmono, Awan Setho Raharjo, I Putu Gede Juni Antara, Alsan Putra Masat Sanda, Wahyu Subo Seto, Indra Kahfi Ardhiyasa, hingga Jajang Mulyana.

Mereka ditopang pemain asing seperti Lee Yujun, Paulo Sergio, Guy Junior, Otovio Dutra, dan pemain naturalisasi Ilija Spasojevic.

Tampilnya Bhayangkara sebagai juara terasa sangat mengejutkan, pasalnya tim berjuluk The Guardian baru pertama kali mengikuti liga resmi PSSI.

Meski gelar juara Bhayangkara sempat dicibir pecinta sepakbola nasional karena mendapat poin 'gratis' dari laga melawan Mitra Kukar, prestasi tersebut tetap luar biasa.

Lalu dari mana klub yang bermasrkas di Stadion Patriot, Bekasi, berasal?

Cikal bakal klub ini berawal dari dualisme Persebaya Surabaya yang baeralih ke Liga Primer Indonesia dan mengubah nama jadi Persebaya 1927 di bawah PT Persebaya Indonesia.

Tim yang dulu bernama Persikubar Kutai Barat diboyong ke Surabaya dan diubah namanya menjadi Persebaya Surabaya oleh Wisnu Wardhana di bawah PT Mitra Muda Inti Berlian agar Surabaya memiliki wakil di liga resmi PSSI.

Pada tahun 2015 mereka tidak boleh mengikuti turnamen arahan Mahaka Sports dan Entertainment yang bertajuk Piala Presiden 2015.

Karena ingin mengikutinya, mereka menambahkan kata United di tim ini. Sejak lolos ke babak 8 besar, BOPI mengisyaratkan untuk meninggalkan nama Persebaya.

Karena hak paten logo dan nama ada di tangan Persebaya 1927 bawahan PT Persebaya Indonesia. Oleh karena itu, mereka mengubah nama menjadi Bonek FC.

Di Piala Jenderal Sudirman 2015, mereka mengubah nama klubnya menjadi Surabaya United dikarenakan Bonek mengecam namanya sebagai klub sepakbola.

12 April 2016, Surabaya United melakukan merger dengan tim yang mengikuti Piala Bhayangkara 2016, PS Polri dan mengubah namanya menjadi Bhayangkara FC .

Klub ini mengikuti kompetisi Indonesia Soccer Championship A 2016. Waktu itu, Bhayangkara Surabaya United menggunakan Stadion Gelora Delta di Sidoarjo sebagai laga kandang.

24 April 2016, Bhayangkara SU mengadakan launching tim di ajang Trofeo Kapolda Jatim dengan mengundang Madura United FC dan Deltras Sidoarjo untuk memeriahkannya.

Bhayangkara SU juara trofeo setelah mengalahkan Deltras Sidoarjo 4-0. Selain di Stadion Gelora Delta, Bhayangkara SU juga menggunakan Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya sebagai stadion alternatif kala itu.

Kini Bhayangkara kembali membangun tim untuk megarungi Liga 1 2018. Sebagian besar pemain lama masih dipertahankan. Menarik menanti kiprah sang juara bertahan. Sukses terus Bhayangkara.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gaspa Palopo Kebanggaan Warga Luwu Raya

BOLA - Palopo, daerah berstatus kota sejak 2002 di utara Sulawesi Selatan. Dulu Palopo disebut kota administratif, merupakan ibu kota Kabupaten Luwu. Kini, Luwu dimekarkan jadi empat daerah. Luwu sebagai induk, Luwu Utara, Luwu Timur, dan Palopo. Daerah ini dikenal dengan sebutan Tana Luwu atau Luwu Raya. Sepakbola cukup digemari warga Palopo. Di kota ini, Anda dengan mudah menjumpai orang yang sedang nonton bareng pertandingan sepakbola melalui layar televisi. Cafe ataupun warung kopi yang banyak dijumpai di sudut kota berpenduduk 168.849 jiwa tahun 2015 kerap menggelar nonton bareng laga penting tim Eropa. Tahun 2004, masyarakat Palopo dan Luwu Raya pernah bangga melihat tim kesayangan mereka Gaspa Palopo berlaga di Divisi I Grup III Liga Indonesia. Meski hanya bermain di kasta kedua Liga Indonesia, prestasi tersebut merupakan yang terbaik sepanjang berdirinya klub yang bermarkas di Stadion Lagaligo. Laskar Sawerigading julukan suporter Gaspa Palopo, kal...

Lalui Musim Luar Biasa, PSM Juara di Hati

BOLA - PSM Makassar hampir dipastikan juara Gojek Traveloka Liga 1 Indonesia 2017 andai mampu mengalahkan Bali United di pekan ke-33. Sayang, gol Stefano Lilipaly di masa injury time memaksa PSM Makassar menelan kekalahan perdana di kandang sendiri musim itu. Kekalahan 0-1 tersebut sekaligus memupuskan harapan Pasukan Ramang kembali berjaya setelah 17 tahun tak pernah juara. Meski membantai Madura United 6-1 di laga terakhir, PSM hanya mampu finis di peringkat ke tiga setelah Bhayangkara FC dan Bali United. Finis di peringkat tiga, ternyata tidak membuat suporter dan pecinta PSM Makassar kecewa, mereka menyebut tim kesayangannya juara di hati. PSM Makassar tampil luar biasa sepanjang musim 2017, penampilan konsisten tim kesayangan masyarakat Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat diperlihatkan sejak awal musim. Keputusan manajemen mempertahankan pelatih asal Belanda Robert Rene Alberts dianggap sebagai pilihan yang tepat. Robert dianggap sukses membangun ...